Nalar dan Qolbu

by Milis

Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat amygdala, temporal lobe, Insular cortex, dll, yang bukan kawasan nalar. Jika dia baik maka baiklah penilaian/keputusan kita dan jika dia buruk, maka buruklah penilaian/keputusan; ketahuilah bahwa dia adalah hati, batin, qolbu, rasa, emosi, nurani, feeling, heart dan yang sejenis ini.

Qolbu bukan semata dibuat agar selaras dengan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya atau hal2 yang bersifat budi pekerti melainkan kita perlebar menjadi lebih mampu membuat penilaian/keputusan yang lebih ‘tepat’. Apa yang dimaksudkan dengan ‘tepat’ kita pulangkan kepada pembaca.

Pertama, dipahami dulu bahwa Qolbu tidak sebatas hal2 yang moralistik tetapi melingkupi hampir semua hal. Qolbu bisa memutuskan apa yang ditakuti, dijijiki, dipercaya, dicurigai, yang disukai, yang dibenci, emosi, dll.

Kedua, Qolbulah  yang membuat kita ‘enak’ atau ‘tidak enak’. Jika sesuatu klop dengan Qolbu maka tumbuh rasa tidak enak yang bisa berupa apa saja, bisa stress, jantung bedegup, keringat dingin, mumet, perih, pilu, ngeres, linu, nikmat, senang, riang, gembira, susah, duka, lara, dll.

Ketiga, Qolbu bekerja dengan proses yang belum kita pahami. Yang jelas Qolbu merekam dalam banyak format, ada yang temporary memory sampai yang permanent, tidak bisa di-delete. Ada yang memorynya gampang di-retrieve, ada yang nyungsep jauh kedalam sehingga sulit di-retrieve. Ada pula yang sama sekali tidak direkam. Qolbu bekerja atas prinsip ‘hafalan’. Sangat berbeda dengan nalar yang bekerja secara analitis, metodis, systematis. Kelebihan Qolbu adalah KECEPATAN-nya dan OTOMATIS. Sangat – sangat efisien. Sementara berfikir nalar LAMBAN dan membutuhkan data. Kesulitannya seringbukan karena kurangnya data tetapi justru terlalu banyak data sehingga membikin nalar gumyur. Sama dengan nalar yang bisa gumyur ketika digelontor data yang berlebihan maka Qolbupun bisa juga gumyur. Merekam yang seharusnya tidak direkam dan malah membuang yang perlu2.

Kelebihan Qolbu dalam hal kecepatan sekaligus kelemahan. Karena cepat sering srudag srudug,  grusa-grusu dalam membuat keputusan/penilaian yang berakibat ‘tidak tepat’. Sementara kelemahan nalar yang lamban justru menjadi kekuatan karena lebih seksama.

Keempat, nalar diasah terus menerus sejak pra-TK, SD, SMP, SMU, S1, S2 sampai S3. Diluar itu dalam kehidupan sehari2 kita terus menerus digembleng nalarnya sehingga terpantau. Celakanya, tidak ada pengasahan Qolbu yang formal seperti yang diajarkan di-sekolah2. Yang terjadi adalah orang2 yang terjebak, misalnya rasa takut yang ternyata ilusi. Atau stress pada hal2 yang tidak begitu riil. Atau mengkhawatiri hal2 yang nilainya ecek2. Semua itu disebabken karena error yang dilakukan oleh Qolbu yang sifatnya ‘hafalan’ dan ‘speedy’ alias srudag-srudug.

Kelima, Qolbu tidak selalu segendang sepenarian dengan nalar yang dominan, terkadang sebaliknya. Begitulah maka penilaian/keputusan kita sangat tergantung siapa yang ketok palu. Nalar atawa Qolbu?

Maka, ada benarnya, ucapan, bahwa jika Qolbu baik maka hidup akan lebih mudah, lebih indah. sayangnya, kita belum memiliki metode seperti  pengasahan nalar. Tiap2 individu melakuken ‘trial & eror’ sendiri2 😉

At the end, it makes sense to say : don’t let your Qolbu rules your mind. Jangan biarkan Qolbu memperbudak nalar kita. Apakah ini bermakna bahwa Qolbu dibuang saja? Ndak dong, Qolbu adalah bagian yang ndak terpisahkan dari kita. Keberadaan Qolbu, jika ia baik, sangat menguntungkan dan hidup lebih mudah dan indah. Namun demikian hendaknya nalar mengendalikan Qolbu. Biarpun ini sering tidak bisa dilakukan  😦

Yang bisa kita lakukan adalah menyadari manakala ada rasa ‘tidak enak’. Entah itu rasa takut, kuatir, stress, marah, dll. Tahanlah beberapa detik untuk memberi waktu kepada nalar untuk membuat penilaian/keputusan. Pahamilah bahwa nalar itu LAMBAN. Kemudian tahan lagi sedikit lagi untuk memberi waktu nalar ‘nego’ dengan Qolbu. Bisa jadi nalar ‘menang’ bisa ‘kalah’. Apa boleh buat  😦

imagesItulah resep praktis dalam hal konflik nalar vs Qolbu. Dalam Bahasa yang lebih sederhana : jangan srudag srudug, grusa grusu, kespontanan, dll sejenis-nya. Ada yang menyarankan untuk tarik napas dalam2 sekian menit. Ada pula yang menyarankan nylamur2 (mengalihkan perhatian) ke hal2 lain terutama yang menghasilkan ‘rasa enak’. Atau, terserah apa yang anda rasa tepat untuk melakukan ‘manajemen Qolbu’ penting diinget bahwa

1. “hati, batin, qolbu, rasa, emosi, nurani , feeling, heart dan yang sejenis ini.” Tidak selalu tepat.   Sama dengan indra   dan nalar, sering nguawur.

2. Qolbu cs itu cepat dan nalar itu LAMBAN.

3. Qolbu bekerja berdasarkan ‘hafalan’

4. Jika Qolbu cs tidak klop dengan nalar timbul rasa ‘tidak enak’. Begitupun tindakan2 yang membuat kita ‘enak’ tidak selalu tepat. Jangan mengandalkan ‘hafalan’ yang berasal dari rasa ‘enak’ & ‘tidak enak’. Biasakan berfikir analitis, metodis, sistematis, koheren, konsisten, kritis, dst.

Sumber :

http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

6 responses to “Nalar dan Qolbu

  1. Makanya ada nyanyian yg bunyinya: jagalah qalbu (hati) jangan kau kotori … dst. Bukan begitu ?

    @ Basir says :

    kok gk diterusin Pak lagunya….hihihi 😉
    pendengar setia nie 🙂

  2. postingannya keren bgt…dalem bgt..harus belajar banyak nih buat bisa bqn postingan kaya gini

    @ Basir sasy :

    sebenarnya masih banyak mo aq publish tapi… 😉

  3. qalbu yang dimaksud ini apakah bukan yang biasa dikenal sebagai “alam bawah sadar”?

    saya agak rancu memahami ini.

    yang terbaik memang kolaborasi qalbu dan akal.

    Ada baiknya Anda baca buku RB Sentanu “Quantum Ikhlas” [atau sudah..]. Dalam buku itu dijelaskan bahwa “perasaan” mempunyai efek lebih dahsyat ketimabg pikiran. Sehingga tidak cukup kita mempunyai “positive thinking” tapi jauh lebih dahsyat jika selalu mempunyai “positive feeling”. kalau yang pertama hanya bisa menimbulkan “force” sedang yang kedua bisa menimbulkan “power”.

    Mungkin setelah baca bukunya kita bisa sharing2 lagi.

    wass wr wb.,

    @ Basir Says :

    Harus banyak belajar lg nie Pak . . . thanks tambahan ilmunya 😉

  4. mampir aja mas 😀

    @ Basir Says :

    Silahkan Papa… 😉

  5. mas, urun rembug, nih.
    saya lebih suka membagi diri kita menjadi 3 bagian: fisik, jiwa, dan fitrah.
    mungkin qalbu, dalam arti harfiahnya hati, atau di buku Quantum Ikhlas sebagai Positive Feeling, terdiri dari dua bagian itu, yakni jiwa dan fitrah.
    jiwa bisa terkotori, tidak demikian halnya fitrah. fitrah ya fitrah. istilahnya ESQ, suara hati. jiwa itulah yang mungkin menutupi cahaya fitrah. sehingga, jiwalah yang senantiasa dibersihkan, supaya cahayaNya memancar dari fitrah kita. 😉

    @Basir Says :

    Mantabzz Bozz hihihi… 😉 thanks tambahannya

  6. ouwh my God, keren abis broth… gw banya ni post pas banget qolbu gw lg sradak sruduk ga jelas nih.. hahaha
    doain gw uts ni.
    thanks trus berkarya broth

    @ Basir Says :

    hihihi…lg napa nie?
    sama nie lg UTS juga 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s